Senin, 06 Januari 2014

#3 Persami


Persami pertamaku waktu aku kelas tiga sd.
Anak kelas tiga yang ingin belajar berkemah di ijinkan untuk ikut asal dengan persetujuan orang tua atau didampingi orang tua.

Aku pun tak ingin ketinggalan,

Dan uh yah ibuku mendampingiku.
Sebenernya aku tak ingin beliau ikut. Karena ah nanti saja kalian akan tahu....


Hari yang ditunggu pun tiba. Dan rupanya ternyata ibu-ibu temanku tidak ada yang ikut.
Hanya aku dan satu-satunya temanku yang membawa ibu. Dan tentu saja mungkin tidak masuk hitungan karena ibunya adalah Ibu Guru.

Ah aku makin tidak ingin ibuku ikut.


Malam pun tiba,
Hal yang sangat kucemaskan, hal yang membuat aku enggan ibuku untuk ikut.
Ibuku sudah akan tidur. Aku mulai resah.
Ya, karena suara dengkuran beliau sangat besar dan menurutku memalukan.


Ibuku mulai mendengkur kecil. Aku masih terjaga.
Ia agak mulai mendengkur dengan suara berat. Aku menarik nafas tertahan.
Aku menggoyangkan badan ibuku agar tidak terlalu besar dengkurannya.
Tapi tetap saja itu tidak merubah apapun, malah membuat suara dengkuran ibuku sepertinya bertambah besar.

Aku pun makin panik, aku takut suaranya terdengar sampai keluar tenda.
Aku ingin membungkam mulutnya, tapi aku takut membuatnya meninggal.

Aku mencoba merubah posisi badan ibuku, hingga tak terasa malam kian larut.

Ku sadar sekelilingku. Gelap. Dan hening. Dan tentu saja suara dengkuran ibuku mungkin makin kentara. Aku takut, dan aku malu.

Tak terasa aku menangis. Dan tahu-tahu aku merasa celanaku hangat. Ya aku mengompol.

Aku lalu membangunkan ibuku.
Untung saja ia Ibuku! Kalau tidak, siapa pula yang mau menemaniku ke toilet umum di perkemahan cibubur malam-malam begitu.

Untung saja ia Ibuku! Kalau tidak, berita ompolku sudah tersiar.

Dan ya, aku lupa aku telah menginginkannya untuk tidak ikut, karena setelahnya aku tertidur pulas di pelukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar